Kamis, 02 September 2010

Keluarga Permana oleh Sutan Takdir Alisyahbana

Adalah dua orang kakak beradik, Tuti dan Maria. Mereka putri Raden Wiraatmadja. Dua kakak beradik ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Tuti gadis yang selalu serius, perpendirian teguh, aktivis perempuan di berbagai organisasi wanita. Ia sangat aktif dalam orasi tentang persamaan hak kaum perempuan. Namun kesan keseharian, gadis ini tampak pendiam dan tidak pandai bergaul.
Lain dengan adiknya, Maria. Ia gadis yang sangat lincah, supel, senang bergaul, dan selalu tampak ceria. Orang akan sangat senang berada di dekatnya, karena ada saja sesuatu yang dapat dijadikan bahan obrolan. Maria adalah tipe gadis yang hangat.
Suatu saat, dua kakak beradik itu berjalan-jalan di pasar ikan. Ketika mereka sedang melihat ikan-ikan di akuarium, mereka berkenalan dengan seorang pemuda mahasiswa kedokteran bernama Yusuf. Sudah dapat diduga, pastilah Yusuf sangat senang berdekatan dengan Maria. Alhasil, hari itu Yusuf bersedia mengantarkan dua kakak beradik itu pulang ke rumahnya.
Setelah pertemuan itu, Yusuf selalu terngiang-ngiang pada sosok Maria. Gadis ramah, supel, dan lincah itu selalu mengganggu pikirannya. Ia yakin bahwa ia telah jatuh hati pada Maria. Dan benarlah ketika suatu ketika Yusuf kembali bertemua dua kakak beradik itu di depan Hotel Des Indes. Sama seperti pertemuan di pasar ikan, kembali Yusuf mengantarkan dua kakak beradik itu pulang.
Sejak saat itulah, Yusuf semakin sering berkunjung ke rumah Maria. Tiada lama berselang, bersepakatlah mereka menjalin hubungan cinta. Hari-hari berikutnya, adalah hari-hari indah mereka berdua. Mereka selalu tampak mesra di mana saja.
Hubungan dua orang itu akhirnya diketahui Tuti, kakak Maria. Tentu saja Tuti tidak senang melihat adiknya sudah berpacaran. Ia yang selalu meneriakkan bahwa wanita harus sejajar dengan pria, tetapi adiknya sendiri justru jatuh hati kepada seorang lelaki bernama Yusuf. Tuti menjadi semakin tidak senang ketika suatu ketika ia mendapat surat dari Supomo yang manyatakan bahwa dirinya jatuh cinta pada Tuti. Tuti semakin kesetanan aktif dalam organisasi untuk menghapuskan kekesalan itu. Kegemarannya membaca buku pun semakin menjadi-jadi.
Kemesraan Yusuf-Maria ternyata harus mendapat kendala. Maria jatuh sakit. Hasil diagnosis dokter menyatakan bahwa Maria menderita TBC. Kesehatan Maria semakin hari semakin memburuk. Yusuf sangat sedih melihat kekasihnya kini menjadi gadis yang kehilangan semangat hidup. Ia terus mendampingi kekasihnya dengan setia.Usaha dokter yang mengobati Maria secara intensif ternyata tidak membuah hasil. Kesehatan Maria semakin memburuk. Maria akhirnya meninggal. Sebelum meninggal, Maria sempat meminta agar Yusuf mengawini Tuti, kakaknya.Yusuf menuruti nasihat Maria. Setelah Maria meninggal, Yusuf mengambil Tuti sebagai kekasihnya. Mereka sepakat untuk menikah sesegera mungkin.***

Catatan:
Roman karya Sutan Takdir Alisyahbana (STA) ini dalam sejarah sastra Indonesia disebut-sebut sebagai novel pembuka periode Pujangga Baru. Pemikiran tentang emansipasi wanita sudah mulai muncul. Secara lebih spesifik, dua kakak beradik Tuti dan Maria menyimbolkan dua karakter zaman yang berbeda. Tuti simbol pemikiran modern, sedang Maria simbol pemikiran tradisional. Judul roman yang di pilih STA pun menyiratkan hal itu: layar yang sudah terkembang, pemikiran yang sudah terbuka.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Rosyid A | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review
Chrome Pointer